Palembang, cakrawalanews.net
Pemerintah Kota Palembang memberikan apresiasi terhadap konsep pendidikan yang diterapkan di Desa Quran Palembang. Lembaga pendidikan ini dinilai tidak hanya mencerdaskan anak bangsa, tetapi juga menghadirkan solusi lingkungan dan kepedulian sosial dalam satu gerakan nyata, dilaksanakan di desa Qur'an Palembang.
"Asisten II Setda Kota Palembang, Isnaini, menyampaikan bahwa keberadaan Desa Quran sejalan dengan program unggulan Pemerintah Kota Palembang, yakni Palembang Cerdas, Palembang Belaga, dan Palembang Peduli,jumat (20/02/2026).
“yang diwawancarai oleh awak media Palembang Cerdas karena ini lembaga pendidikan. Palembang Belaga karena anak-anak di sini, khususnya kaum dhuafa dan yatim, tidak membayar dengan uang, tetapi dengan limbah sampah plastik, botol bekas, baik anorganik maupun organik. Ini yang selama ini menjadi masalah, di sini justru menjadi solusi dan berkah. Dan Palembang Peduli, karena kita wajib memperhatikan anak-anak dhuafa dan yatim,” ujarnya.
"Ia menegaskan, konsep ini layak menjadi pilot project dan contoh bagi lembaga lain, karena mampu menjawab tiga program unggulan pemerintah sekaligus. Isnaini juga berharap dukungan dari berbagai pihak agar kegiatan tersebut terus berlanjut setiap tahun dan dapat dikembangkan di lokasi lain.
“Kami berharap banyak pihak dapat membantu ke depan. Desa Quran ini masih membutuhkan uluran tangan dan dukungan dari berbagai pihak, baik melalui dana CSR maupun tanggung jawab sosial lainnya,” tambahnya.
"Sementara itu, pendiri Desa Quran, Muhammad Syafi’i, S.Pd.I, menjelaskan bahwa selain menjadi lembaga pendidikan gratis bagi anak-anak kurang mampu, tempat ini juga dikembangkan sebagai destinasi edukasi wisata.
"Melalui agenda “Desa Quran Festival 2”, pihaknya menghadirkan 100 tokoh inspiratif selama bulan Ramadan. Tokoh-tokoh tersebut dijadwalkan hadir secara bergantian untuk memberikan motivasi kepada para siswa.
“Kami undang 100 tokoh inspiratif ke Palembang untuk datang ke sini selama Ramadan. Mereka akan berbagi cerita motivasi. Anak-anak yatim ini tumbuh dari lingkungan yang mungkin kurang melihat sosok panutan. Dengan hadirnya dokter, pegawai BUMN, pejabat, dan profesi lainnya, mereka bisa melihat langsung dan termotivasi menjadi orang besar,” jelasnya.
"Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung sepanjang Ramadan, dengan sesi pagi, siang, hingga menjelang magrib, menyesuaikan kesiapan para tokoh yang diundang.
Syafi’i menambahkan, siswa yang belajar di Desa Quran berasal dari berbagai wilayah di Kota Palembang, bahkan ada yang datang dari Gandus. Mayoritas berasal dari keluarga kurang mampu, seperti anak tukang ojek dan buruh bangunan.
“Kami benar-benar murni ingin menolong. Tidak ada biaya yang kami tarik. Seragam pun kami bantu. Bahkan saat ini kami masih membuka slot untuk tahun ajaran baru. Persyaratannya cukup administrasi seperti KK dan surat keterangan tidak mampu dari RT,” katanya.
"Terkait konsep pendidikan, Syafi’i menjelaskan bahwa pihaknya memiliki dua model, yakni Sekolah Quran Keren Indonesia (SQI) yang gratis untuk anak dhuafa dan yatim, serta Sekolah Hafiz Indonesia (SHI) yang berbayar seperti sekolah Islam terpadu pada umumnya.
“Kami sempat dilema mau buka yang berbayar dulu karena secara finansial lebih cepat berkembang. Tapi kami memilih membuka yang gratis lebih dulu, karena dorongan dari anak-anak Rumah Tahfidz yang ingin melanjutkan pendidikan dengan sistem yang lebih baik dan tanpa beban biaya,” ungkapnya.
"Saat ini, kegiatan belajar mengajar masih berlangsung tanpa asrama. Untuk tingkat SD, siswa belajar dari pagi hingga siang, sedangkan SMP hingga sore hari. Ke depan, pihaknya berencana membangun asrama guna mendukung sistem pendidikan yang lebih terpadu.
"Dengan konsep pendidikan berbasis kepedulian sosial dan lingkungan, Desa Quran diharapkan terus berkembang serta menjadi inspirasi bagi lembaga pendidikan lainnya di Kota Palembang.(A Syafei )

0 Komentar