Banjir Jatisari Kembali Melanda, Erick Heryawan: Solusi Darurat Tak Cukup, Sungai Harus Dinormalisasi


KARAWANG|| Cakrawalanews.net


Banjir kembali merendam Desa Sukamekar, Kecamatan Jatisari, Kabupaten Karawang. Air yang sempat mencapai ketinggian hingga satu meter memaksa warga mengungsi dan meninggalkan harta benda mereka.

Di tengah kondisi itu, Anggota DPRD Karawang Fraksi NasDem, H. Erick Heryawan K, S.E., sekaligus Penasehat AMKI Kabupaten Karawang turun langsung ke lokasi untuk memastikan kondisi warga sekaligus mendengar keluhan mereka secara langsung, Minggu (25/01/2026).

Tak sekadar meninjau, legislator dari Dapil 5 Karawang tersebut menegaskan bahwa banjir yang terus berulang tidak bisa lagi ditangani dengan cara-cara instan. Menurutnya, solusi darurat hanya memadamkan api sesaat, sementara akar masalah banjir masih dibiarkan.

“Kalau hanya bantuan dan pengungsian, banjir tahun depan akan terulang lagi. Yang dibutuhkan warga adalah kepastian bahwa masalah ini benar-benar diselesaikan,” tegas Erick.

Dalam kunjungannya, Erick menyambangi rumah Ibu Warni (60) di Dusun Karajan 2, salah satu warga yang terdampak cukup parah. Rumahnya terendam air setinggi dada orang dewasa, memaksa keluarga ini bertahan di pengungsian selama dua malam.

Meski air mulai surut, Erick menilai penderitaan warga tidak berhenti ketika banjir usai. Justru fase pascabanjir menjadi ujian terberat bagi masyarakat.

“Walaupun hanya mengungsi dua malam, setelah itu warga harus membersihkan lumpur, menyelamatkan perabot yang rusak, dan menghadapi ancaman penyakit. Bebannya tetap berat,” ujarnya dengan nada prihatin.

Erick juga mengapresiasi langkah cepat Pemerintah Desa Sukamekar yang sigap menyediakan posko pengungsian dan membantu kebutuhan dasar warga sejak hari pertama banjir.

Lebih jauh, Erick mengungkapkan bahwa banjir di Jatisari bukan semata faktor alam. Ia menyoroti dua persoalan teknis klasik yang hingga kini belum ditangani secara serius, yakni pendangkalan sungai akibat sedimentasi serta penyempitan sempadan sungai yang menghambat aliran air.

“Air itu sederhana, dia hanya ingin mengalir. Ketika sungai dangkal dan menyempit, air akan mencari jalannya sendiri dan biasanya masuk ke rumah warga,” jelasnya.

Ia pun mendorong Pemerintah Kabupaten Karawang agar lebih proaktif melakukan analisis risiko bencana, terutama untuk melindungi sektor vital seperti lahan pertanianJalan Usaha Tani (JUT), hingga kegiatan belajar mengajar yang kerap lumpuh setiap kali banjir datang.

Sebagai langkah konkret, Erick mengusulkan normalisasi sungai melalui pengerukan dan pelebaran sungai di titik-titik rawan banjir agar daya tampung air kembali optimal.

“Normalisasi sungai harus menjadi prioritas. Kalau daya tampungnya normal, risiko banjir bisa ditekan. Ini soal keselamatan dan masa depan warga,” pungkasnya.

@red

0 Komentar