Akibat Bencana, Masyarakat Menerobos Arus Persendian Ekonomi Lumpuh


TAPANULI UTARA || Cakrawalanews. net

Kerusakan jembatan hingga lahan pertanian akibat banjir-longsor menyebabkan para petani durian di Desa Sibalanga, Tapanuli Utara, Sumatra Utara, merugi. Penanggulangan Bencana tersebut sangat berpotensi menciptakan kemiskinan baru.

Pinahot Panggabean menghentikan langkah. Ia menyingsingkan lengan baju, memegang seutas tali, lalu berjalan menyeberang sungai berarus deras sembari memikul hasil panen menggunakan sebelah tangan.

Pinahot, lelaki berusia 33 tahun, adalah petani durian di Desa Sibalanga, Kecamatan Adiankoting, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara.

Dia dan petani lainnya nekat menerobos sungai sedalam dada orang dewasa lantaran terpaksa demi kelangsungan hidup keluarganya

Sebab, jembatan menuju ladang mereka hanyut diterjang banjir bandang pada 25 November 2025 lalu.

Di sisi lain, musim durian menjadi salah-satu harapan para petani untuk dapat menyambung hidup di tengah situasi yang serba sulit pascabencana.

Bagi Pinahot, risiko ini wajib diambil demi memenuhi tanggung jawabnya selaku suami sekaligus bapak dari dua anak yang masih sekolah.

"Sebenarnya takut tapi karena menanggung keluarga, harus dipaksakan. Sekarang di sini sudah susah sekali kehidupan masyarakat gara-gara hanyut jembatan ini. Soalnya jembatan ini jalur untuk mengangkut hasil dari ladang," ujar Pinahot sambil meneteskan air mata ketika ditemui di tempat pengungsian (08/01/2026).

Bukan hanya jembatan, banjir dan longsor juga menyebabkan sejumlah ruas jalan rusak sehingga kendaraan tidak bisa melintas.

Hal itu memaksa kami para petani berjalan kaki menapak bukit sejauh 4 kilometer untuk membawa hasil panen.

Beberapa di antara kami mengalami lecet dan memar pada bagian pundak lantaran memikul beban berat.

"Sampaikan sama [Presiden] Prabowo biar cepat jembatan kami diperbaiki, biar bisa kami beraktivitas mencari kehidupan dan mencari nafkah ke ladang kami," ujar Pinahot 

Menurut petani durian lainnya, Zulkifli Hutabarat, bencana telah melumpuhkan sendi-sendi perekonomian mereka.

"Kami rugi di bidang kehidupan, dalam arti menyambung hidup. Sebanyak 80% warga kampung (berladang) ke sini, jadi untuk hasil bumi sampai sekarang terkendala. Sebulan lebih kami merasakan susahnya menggunakan tali untuk menyeberangkan hasil bumi," ujar laki-laki berumur 30 tahun ini.

Kondisi yang berkepanjangan ini membuat Dahlan Aritonang (54), seorang petani durian lainnya, khawatir akan masa depan mereka.

"Kami merasa takut dalam kehidupan kami di sini. Rasa takut kalau habis nanti bantuan yang diberikan pemerintah, kami makan apa? Itulah pikiran kami. Tidak mungkin bantuan terus berjalan," ujar Dahlan.

Ketika keadaan sulit seperti sekarang, warga memanfaatkannya untuk menopang hidup.

Sebagian hasil panen dijual, sebagian lagi disantap bersama keluarga di tenda-tenda darurat pengungsian.

Desa Sibalanga sudah lama tersohor sebagai desa penghasil durian asal Kabupaten Tapanuli Utara.

Banjir bandang dan tanah longsor menyebabkan lebih 240 jiwa dari 60-an kepala keluarga di Desa Sibalanga mengungsi.

Beberapa di antaranya tinggal di posko penampungan, selebihnya memasang tenda darurat di tepi jalan atau menumpang di rumah kerabat.

Saat ini, pemerintah masih mempersiapkan puluhan unit hunian sementara (huntara) untuk penduduk Kabupaten Tapanuli Utara yang terdampak bencana. Lokasi hunian yang dimaksud berada di Desa Sibalanga.

Sementara untuk hunian tetap (huntap), otoritas akan membangun sebanyak 103 unit di atas lahan seluas 5 hektare di Desa Dolok Nauli, Kecamatan Adiankoting. Jaraknya sekitar 16 kilometer dari Desa Sibalanga.

Untuk memenuhi kebutuhan perut sehari-hari, warga di posko pengungsian dan tenda-tenda darurat mengandalkan dapur umum yang suplai bahan pangannya bergantung pada bantuan pemerintah dan para dermawan.


Tulus

0 Komentar