44 Hari Pascabencana, 9 Desa di Tapteng dan Taput Masih Terisolir

 


TAPANULI UTARA || Cakrawalanews.net


Memasuki hari ke-44 pascabencana banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara, sebanyak sembilan desa di wilayah Tapanuli dilaporkan masih terisolasi. Akses menuju desa-desa tersebut masih terhambat material longsor yang cukup parah.

Kepala Bidang Penanganan Darurat, Peralatan, dan Logistik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, mengungkapkan bahwa daerah yang terisolasi berada di dua kabupaten, yakni Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Tapanuli Utara (Taput).

"Tercatat, ada sembilan desa dari enam kecamatan yang masih terisolasi," kata Sri Wahyuni kepada saat dihubungi  melalui sambungan telepon, Rabu (07/01/2026) malam.

Di Kabupaten Tapanuli Tengah, terdapat empat kecamatan yang terdampak, yaitu Tukka, Sibabangun, Lumut, dan Sitahuis.

Sementara di Kabupaten Tapanuli Utara, akses masih terputus di dua kecamatan, yakni Sipoholon dan Parmonangan. Berikut adalah rincian desa yang masih terisolasi beserta jumlah Kepala Keluarga (KK):

1.Kecamatan Tukka: Desa Saur Manggita (102 KK) dan Desa S. Kalangan 2 (214 KK).

2. Kecamatan Sibabangun: Desa Sibio-bio (206 KK).

3. Kecamatan Lumut: Desa Sialogo (254 KK).

4. Kecamatan Sitahuis: Desa Naga Timbul (259 KK).

5. Kecamatan Sipoholon: Desa Rura Julu Toruan (6 KK).

6. Kecamatan Parmonangan: Desa Hutajulu Parbalik (86 KK), Desa Hutatua (126 KK), dan Desa Pertengahan (178 KK).

Sri Wahyuni mencatat adanya kemajuan di Kecamatan Parmonangan. Pada pertengahan Desember 2025, terdapat enam desa yang terisolasi, namun kini tersisa tiga desa.

Meskipun akses jalan utama belum pulih sepenuhnya, bantuan logistik terus disalurkan kepada warga terdampak. Petugas di lapangan menggunakan berbagai cara, mulai dari berjalan kaki, menggunakan kendaraan roda dua jenis trail, hingga mengerahkan helikopter untuk menjangkau lokasi yang paling sulit.

Hingga saat ini, pembersihan material longsor masih terus dilakukan oleh tim gabungan. Kondisi medan yang berat dan volume longsoran yang besar menjadi tantangan utama dalam pembukaan akses jalan. "Masih tetap dilakukan pembersihan material dan kondisi longsoran cukup parah. Namun, ada beberapa wilayah yang sudah bisa dilalui oleh roda dua," pungkas Sri Wahyuni.


Tulus

0 Komentar