![]() |
| Oleh: Yustus Bunga, SP |
SULSEL|| Cakrawalanews.net
Jumat Agung selalu membawa kita masuk ke dalam keheningan yang sangat dalam. Di atas kayu salib, kita tidak melihat seorang pemimpin yang berteriak, mengancam, memaksa, atau mempertahankan kuasa dengan brutal. Kita melihat Yesus—Sang Raja—yang justru memimpin dengan cara yang sama sekali berbeda: by sacrifice, not by domination.
Dunia hari ini sering memperlihatkan wajah kepemimpinan yang arogan: kuasa dipakai untuk menekan, jabatan dipakai untuk mengatur tanpa hati, kekuatan dipakai untuk menundukkan. Orang merasa dirinya besar ketika bisa menguasai orang lain. Tetapi di Jumat Agung, Yesus menunjukkan bahwa kebesaran sejati bukanlah ketika seseorang mampu memerintah banyak orang, melainkan ketika ia rela mengorbankan diri demi menyelamatkan orang lain.
Salib adalah tahta-Nya. Mahkota duri adalah tanda kerajaan-Nya. Darah yang tertumpah adalah bahasa cinta-Nya.
Di sinilah kita belajar: cinta yang sejati selalu siap berkorban.
Sacrifice is the highest form of love.
Yesus tidak membalas kekerasan dengan kekerasan. Ia tidak melawan penghinaan dengan dendam. Ia tidak turun dari salib untuk membuktikan kuasa-Nya. Justru dengan tetap tinggal di salib, Ia memperlihatkan siapa Allah itu sesungguhnya: Deus caritas est—Allah adalah kasih. Dan kasih itu mencapai puncaknya ketika Ia memberikan seluruh hidup-Nya.
Jumat Agung bertanya kepada kita:
Dalam keluarga, dalam Gereja, dalam masyarakat—apakah kita mau memimpin dengan ego atau dengan kasih?
Apakah kita ingin dihormati karena kuasa, atau dikenang karena pengorbanan?
Yesus memilih jalan salib, sebab hanya cinta yang berani berkorban yang sanggup menyelamatkan dunia.
Hari ini, marilah kita belajar dari salib Kristus:
jangan memakai kata-kata untuk melukai,
jangan memakai posisi untuk menekan,
jangan memakai kuasa untuk membesarkan diri.
Sebaliknya, belajarlah mengasihi dengan tulus, melayani dengan rendah hati, dan berkorban tanpa banyak menuntut balasan.
Sebab di hadapan salib, kita sadar:
pemimpin sejati bukan yang paling ditakuti, tetapi yang paling rela memberi diri.
Tuhan Yesus, pada Jumat Agung ini kami memandang salib-Mu dengan hati yang hening. Ajarlah kami untuk tidak hidup dengan kesombongan, ego, dan nafsu berkuasa. Bentuklah hati kami agar makin serupa dengan hati-Mu: hati yang lembut, hati yang rela berkorban, hati yang mencintai sampai tuntas. Semoga pengorbanan-Mu di salib mengubah hidup kami, sehingga kami pun mampu menjadi pembawa kasih, damai, dan kerendahan hati di tengah dunia. Amin.
Semoga renungan ini menuntun langkah kita dalam kasih Tuhan, dan membuat kita berani memilih jalan cinta, walau harus berkorban.
***Megasari


0 Komentar