Sukabumi, cakrawalanews.net ][
Sejak kecil kita dijejali satu cerita yang sama, yaitu penjajahan adalah kisah orang Eropa berkulit putih yang datang membawa senjata dan keserakahan.sederhana.terlalu sederhana.
Padahal, sejarah tidak pernah sesuci itu.
Belanda tidak hanya datang dengan meriam dan bedil.mereka datang membawa senjata yang jauh lebih mematikan, yaitu manusia dan mentalitas.nama senjata itu dikenal sebagai Londo Ireng.
Banyak orang berhenti pada satu pengertian:
Londo Ireng adalah tentara Afrika yang direkrut Belanda.memang benar sejak abad ke-19, ribuan pria Afrika Barat didatangkan untuk mengisi barisan KNIL.mereka dilatih, dipersenjatai, bahkan “disetarakan” derajatnya dengan orang Eropa.bukan karena kemanusiaan, tapi karena kebutuhan.
Belanda butuh pasukan yang: tahan penyakit tropis,tidak punya ikatan emosional dengan pribumi,dan bisa membunuh tanpa ragu.namun itu baru lapisan luar.
Londo Ireng yang Paling Berbahaya.ada jenis Londo Ireng yang jauh lebih kejam, bukan karena warna kulitnya, tetapi karena keputusannya.mereka lahir dari tanah yang sama,minum air yang sama,berbahasa sama.namun memilih berdiri di sisi penjajah.
Mereka yang menjadi mata-mata, menjual lokasi persembunyian pejuang.
Mereka yang mengenakan seragam kompeni dan menyiksa bangsanya sendiri tanpa belas kasihan.
Mereka yang rela menundukkan kepala asal bisa duduk sejajar dengan penguasa, meski harus menginjak rakyatnya sendiri.
Belanda tidak bodoh.mereka tahu: penjajahan tak akan bertahan lama jika hanya mengandalkan orang asing.
Belanda paham satu hal penting: bangsa yang bersatu hampir mustahil ditaklukkan.
Maka strategi mereka sederhana tapi kejam: pecah kepercayaan, rusak persaudaraan, pelihara pengkhianat.
Para Londo Ireng lokal diberi jabatan, senjata, dan kuasa.bukan untuk melawan musuh, tapi untuk menundukkan bangsanya sendiri.
Akibatnya?
• Pejuang tak tahu siapa yang bisa dipercaya.
• Rakyat hidup dalam ketakutan.
• Perlawanan patah sebelum sempat tumbuh.
Bukan karena kita kurang berani.tapi karena luka itu berasal dari dalam tubuh sendiri.
Warisan yang Tidak Pernah Benar-Benar Mati
Londo Ireng bukan sekadar pasukan.Ia adalah mentalitas.mentalitas yang menukar harga diri dengan kenyamanan.mentalitas yang rela menjual tanah air demi perut sendiri.mentalitas yang selalu ada di setiap zaman dengan wajah dan seragam berbeda.
Sejarah jarang membicarakan ini secara jujur.terlalu pahit untuk diakui,terlalu menyakitkan untuk diterima.bahwa sering kali, musuh terbesar sebuah bangsa bukan yang datang dari seberang lautan, melainkan yang lahir dari rahim yang sama.
Penjajahan fisik telah lama pergi.namun pertanyaannya tetap menggantung : apakah mental Londo Ireng itu benar-benar sudah mati? atau hanya berganti nama, jabatan, dan pakaian? jawabannya ada di sekitar kita.
(Iws)

0 Komentar