Wartawan cakrawalanews.net
Biro Sukabumi
Pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya, mengapa jiwa harus hadir ke dalam tubuh dan menjalani kehidupan yang penuh batas? Mengapa harus lahir, mengenal cinta, merasakan kehilangan, mengalami kebahagiaan, ketakutan, kesakitan, harapan, lalu pada akhirnya harus berhadapan dengan kematian?
Mungkin jawabannya bukan tentang hukuman. Mungkin kehidupan adalah tentang pengalaman.
Dalam sebagian pandangan spiritual dan esoterik Jawa, manusia tidak hanya dipandang sebagai tubuh fisik. Ada tubuh yang dapat disentuh, ada pikiran yang dapat diamati, ada perasaan yang dapat dirasakan, dan ada sesuatu yang seolah menjadi saksi dari seluruh pengalaman tersebut. Sesuatu yang diam, tetapi selalu hadir menyaksikan perubahan demi perubahan.
Tubuh mungkin hanyalah kendaraan. Dunia adalah ruang perjalanan. Sedangkan jiwa adalah kesadaran yang sedang menjalani perjalanan tersebut.
Di dalam dunia materi, jiwa mengenal sesuatu yang mungkin tidak dapat dirasakan dengan cara yang sama ketika semuanya berada dalam kesatuan. Di sini ada batas, pilihan, hubungan, perpisahan, perubahan, kelahiran dan kematian. Justru karena ada batas, kita mengenal kebebasan. Karena ada kehilangan, kita belajar menghargai. Karena ada perpisahan, kita belajar melepaskan. Dan karena segala sesuatu berubah, kita perlahan memahami bahwa tidak ada satu pun bentuk kehidupan yang dapat kita genggam selamanya.
Ada pula gagasan bahwa sebelum menjalani kehidupan, jiwa seolah memilih atau menyepakati pengalaman tertentu. Pertemuan yang akan terjadi, pelajaran yang akan datang, bahkan berbagai ujian yang mungkin harus dilalui. Namun bukan berarti seluruh kehidupan telah ditulis secara mutlak sampai ke setiap detailnya.
Mungkin yang diberikan hanyalah panggungnya.
Sedangkan bagaimana kita memainkan peran di atas panggung itu tetap menjadi bagian dari kebebasan kita.
Keadaan mungkin datang tanpa pernah kita minta. Kehilangan mungkin terjadi tanpa pernah kita harapkan. Namun cara kita merespons semuanya adalah wilayah yang masih dapat kita pilih. Karena itu, mungkin hidup tidak sesederhana mengatakan bahwa semuanya sudah ditakdirkan. Bisa jadi keadaan adalah bagian dari perjalanan, sedangkan kesadaran menentukan ke mana pengalaman tersebut membawa kita.
Lalu muncul pertanyaan lain yang tidak kalah dalam: jika jiwa berasal dari kesadaran yang lebih luas, mengapa ketika lahir kita tidak mengingatnya?
Dalam pandangan esoterik, lupa justru bisa menjadi bagian dari pengalaman manusia. Bayangkan jika sejak lahir kita sudah mengetahui seluruh jawaban kehidupan. Tidak ada lagi pencarian, tidak ada kebingungan, tidak ada pertanyaan, dan tidak ada proses untuk menemukan siapa diri kita sebenarnya.
Maka mungkin kehidupan memang seperti sebuah teka-teki yang sengaja tidak diberikan jawabannya sejak awal.kita mencari ke luar. Kita mengejar sesuatu. Kita mencoba menemukan kebahagiaan, makna, identitas, dan tujuan di dunia. Sampai suatu hari kita berhenti dan menyadari bahwa mungkin yang selama ini kita cari di luar sebenarnya sedang mengajak kita melihat ke dalam.
Karena itu, kehidupan tidak selalu harus dilihat sebagai hukuman.
Kegagalan dapat menjadi guru. Kehilangan dapat membuka pintu kedewasaan. Kesendirian dapat mempertemukan kita dengan diri sendiri. Bahkan keterbatasan tubuh dapat mengajarkan arti menerima.
Namun bukan berarti semua penderitaan harus dianggap indah. Tidak. Sakit tetaplah sakit. Kehilangan tetaplah kehilangan. Air mata tetaplah air mata.
Tetapi kesadaran kita terhadap pengalaman itulah yang dapat mengubah cara kita menjalaninya.
Pengalaman yang sama bisa menjadi luka yang terus kita bawa, atau menjadi pintu menuju pemahaman yang lebih dalam.
Lalu untuk apa jiwa turun ke dunia?
Mungkin bukan untuk menjadi manusia yang paling kaya. Bukan untuk menjadi yang paling terkenal. Bukan pula untuk mengumpulkan sebanyak mungkin sesuatu yang pada akhirnya harus ditinggalkan.
Mungkin jiwa datang untuk mengalami.
Untuk mencintai. Untuk kehilangan. Untuk memilih. Untuk jatuh. Untuk bangkit. Untuk mengenal dunia, lalu perlahan mengenal dirinya sendiri.
Sebab pengetahuan tanpa pengalaman hanyalah konsep. Dan pengalaman tanpa kesadaran hanyalah kejadian yang berlalu begitu saja.
Perjalanan batin mungkin dimulai dari sesuatu yang sangat sederhana: kita mengalami sesuatu, kemudian bertanya tentang maknanya. Dari tidak tahu, kita mengalami. Dari mengalami, kita menyadari. Dari menyadari, kita memahami.
Dan mungkin, pada suatu titik dalam kehidupan, muncul pertanyaan yang jauh lebih dalam daripada sekadar siapa nama kita, siapa orang tua kita, apa yang kita miliki, atau bagaimana dunia memandang kita.
Kita mulai bertanya.
“Siapa sebenarnya yang sedang menyadari semua pengalaman ini?”
Pertanyaan itu mungkin menjadi awal dari perjalanan pulang.
Bukan pulang ke suatu tempat. Bukan pula kembali ke masa lalu. Tetapi pulang kepada kesadaran yang selama ini diam-diam menyaksikan seluruh perjalanan kita.
Mungkin selama ini kita berpikir, “Aku adalah manusia yang memiliki jiwa.”
Namun bagaimana jika justru sebaliknya?
Bagaimana jika aku adalah jiwa yang sedang mengalami kehidupan sebagai manusia?
Jika demikian, maka dunia materi mungkin bukan tujuan akhir.
Ia hanyalah sebuah persinggahan.
Sebuah ruang pengalaman.
Sebuah panggung tempat jiwa belajar tentang cinta, kehilangan, kebebasan, keterbatasan, pilihan, dan kesadaran.
Dan mungkin pertanyaan terbesar dalam hidup bukanlah “Berapa lama aku akan hidup?”
Melainkan “Apa yang sedang dipelajari jiwaku melalui kehidupan ini?”
Sebab bisa jadi, perjalanan yang paling jauh bukanlah perjalanan menuju dunia luar tetapi perjalanan menuju ke dalam diri sendiri.
***

0 Komentar