Sukabumi, cakrawalanews.net ][
Sukabumi hari ini adalah hutan beton yang angkuh. Di balik silau lampu pabrik dan deru mesin yang tak pernah tidur, ada ribuan nyawa yang sedang sekarat dalam diam. Kita hidup di kota dengan upah selangit, tapi bagi banyak anak muda di sini, upah itu hanyalah fatamorgana yang hanya bisa dilihat, tak bisa disentuh.
Setiap hari kita melihat pemuda-pemuda kita berbaris, menyetrika kemeja putih terakhirnya, berharap ada keajaiban di balik gerbang pabrik. Namun nyatanya, banyak dari mereka yang dipaksa pulang dengan kepala tertunduk. Di tanah kelahirannya sendiri, mereka dianaktirikan oleh sistem yang lebih memuja relasi daripada prestasi. Pengangguran di sini bukan lagi statistik; itu adalah luka yang menganga di setiap ruang tamu rumah warga.
Jangan tanya mengapa jalanan kita kian mencekam. Jangan tanya mengapa tangan-tangan muda itu kini lebih akrab dengan senjata daripada kunci pas. Saat harapan dibunuh oleh keadaan, dan tangis lapar anak menjadi alarm setiap pagi, manusia bisa berubah menjadi serigala bagi sesamanya. Kriminalitas yang marak bukan sekadar soal niat jahat, tapi soal keputusasaan yang sudah mencapai puncaknya.
Kita sering mengutuk pelaku kejahatan, tapi kita lupa mengutuk keadaan yang melahirkannya. Memang salah tetaplah salah, tapi melihat pemuda kita berakhir di balik jeruji besi karena "jalan pintas" demi sesuap nasi adalah kegagalan kita bersama. Kita membangun ribuan gudang, tapi lupa membangun masa depan untuk orang-orang di dalamnya.
Sukabumi tidak sedang baik-baik saja. Kota ini sedang sakit. Kita tidak butuh lebih banyak kawasan industri jika rakyatnya hanya jadi buruh kontrak yang dibuang setelah tenaga diperas habis, atau lebih parah: menjadi pengangguran yang terpaksa jadi kriminal karena tak punya pilihan.
"Tuan, keamanan tidak akan pernah bisa dibeli dengan menambah CCTV atau patroli. Keamanan hanya akan lahir saat setiap dapur mengepul dan setiap ijazah dihargai dengan layak."
(Iws)

0 Komentar