Palembang, cakrawalanews.net ][

Suasana penuh haru dan kebanggaan mewarnai Yudisium Jurusan Kebidanan Program Studi Sarjana Terapan Kebidanan dan Profesi Bidan Tahun Ajaran 2025/2026 Poltekkes Kemenkes Jambi yang digelar di Hotel Santika Bandara Palembang, Sabtu (15/08/2026).

Sebanyak 436 mahasiswa dinyatakan mengikuti tahapan akhir pendidikan, terdiri dari sekitar 146 lulusan Program Profesi Bidan dan 226 lulusan Program Sarjana Terapan Kebidanan. Kegiatan tersebut turut dihadiri Direktur Poltekes Jambi Dr.Rusmimpong,S.Pd,S.Tr.Kep,M.Kes, jajaran manajemen Poltekkes Kemenkes Jambi, perwakilan RSUD Bari Palembang, Pengurus Cabang Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Provinsi dan Kota, serta Direktur RSUD Muhammadiyah Palembang.

Salah satu peserta, Naylah, S.Tr.Keb, yang merupakan lulusan Sarjana Terapan Kebidanan, mengungkapkan rasa syukur setelah berhasil menyelesaikan pendidikan yang ditempuh selama kurang lebih satu tahun dengan sistem pembelajaran daring dan kegiatan tatap muka untuk kebutuhan praktikum.

Naylah berhasil meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,78 dan menjadi salah satu peserta berprestasi dari program studinya. Sementara itu, peserta berprestasi lainnya dari Program Profesi Bidan Penilia despa,S.Tr.Keb itu juga berhasil mencatat capaian akademik membanggakan dengan IPK 4,00 dan beliau bekerja diklinik Pratama kopri.

Menariknya, pendidikan tersebut dijalani sambil tetap bekerja. Naylah diketahui bekerja di Rumah Sakit Muhammaddyah Kota Palembang, sedangkan peserta lainnya bekerja di Rumah Sakit Lainnya.

Menurut Naylah, sistem pembelajaran yang diterapkan Poltekkes Kemenkes Jambi memberikan kesempatan bagi para tenaga kesehatan yang telah bekerja untuk tetap meningkatkan kompetensi akademiknya tanpa harus meninggalkan pekerjaan.

“Alhamdulillah, kegiatan hari ini menjadi puncak dari berbagai proses pembelajaran yang telah kami lalui. Kami bersyukur bisa sampai pada tahap yudisium ini,” ujarnya.

Ia menilai pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang telah memperoleh gelar atau menyelesaikan satu jenjang pendidikan. Justru, ilmu pengetahuan di bidang kesehatan terus berkembang sehingga tenaga kebidanan dituntut untuk selalu belajar dan menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman.

“Harapan saya, wawasan yang saya dapatkan selama pendidikan ini menjadi motivasi bahwa pendidikan bukan hanya sebatas sampai di sini. Kita harus terus mengembangkan diri selama masih mampu. Ilmu selalu berkembang dan kita harus terus menyesuaikannya dengan pekerjaan serta pengalaman yang kita miliki,” katanya.

Sementara itu, pelaksanaan pendidikan dengan metode daring dinilai menjadi solusi bagi mahasiswa yang telah bekerja. Sebagian besar proses pembelajaran dilakukan secara online, sementara kegiatan yang membutuhkan praktik dan tatap muka dilaksanakan secara langsung.

“Selama kurang lebih satu tahun kami mengikuti perkuliahan dengan sistem online dan ada kegiatan tatap muka untuk praktikum. Dengan sistem seperti ini, kami yang sudah bekerja tetap memiliki kesempatan untuk melanjutkan pendidikan,” jelasnya.

Yudisium ini pun tidak sekadar menjadi seremoni akademik, tetapi menjadi momentum bagi para lulusan untuk membawa kompetensi yang diperoleh ke dunia kerja sekaligus memberikan pelayanan kebidanan yang semakin profesional kepada masyarakat.

Dengan berakhirnya satu tahapan pendidikan, para lulusan diharapkan tidak berhenti belajar, melainkan terus meningkatkan kapasitas, menjaga profesionalisme, serta menjadikan ilmu yang diperoleh sebagai bekal untuk memberikan kontribusi nyata bagi peningkatan kualitas pelayanan kesehatan.

***