Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Lumbaa (baju kotak)

SULSEL, Cakrawalanews.net - Tradisi Ma’Nene dari masyarakat Toraja Utara di Pangala' (Sulsel) kampung halaman Gubernur Sulawesi Utara, Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus Lumbaa. Ritual ini begitu unik karena berkaitan dengan cara masyarakat menghormati leluhur.

"Rencana Ketua Umum Perhim0unan Masyarakat Toraja Indonesia (PMTI) yang juga Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) akan hadir di Toraja Utara Pangala' di acara Ma'Nene'. Juga akan mengunjungi beberapa objek wisata di Torut dan Tana Toraja (Tator) untuk meningkatkan kunjungan wisata di dua kabupaten tersebut," sebut Dating Palembangan, Sekjen PMTI Pusat.

Ma'Nene' ini kegiatan mengganti baju dan celana almarhum yang dudah ratusan tahun dilakukan masyarakat Toraja, terkhusus di pegunungan Kecamatan Rinding Allo, Kecamatan Sesean Suloara dan Kecamatan Sesean.

Tradisi adat masyarakat Toraja yang mana bentuk penghormatan dan kasih sayang kepada leluhur. Dipelaksanaannya, keluarga merawat makam dan peti leluhur serta mengganti pakaian jenasah yang berlaku diwilayah tersebut.

“Mengapa Ma’Nene dilakukan 3 tahun sekali?” Jawabannya terkait erat dengan filosofi, kondisi sosial, hingga pertimbangan biaya," terangnya.

Ma’Nene biasanya dilaksanakan setelah panen, sehingga menjadi simbol rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan leluhur.

Musyawarah adat yang menentukan kapan ritual ini dilaksanakan.Karena tradisi ini membutuhkan biaya besar, terutama untuk persiapan pakaian baru, kurban, hingga jamuan bagi tamu.

Faktor lain dilaksanakan tiga tahun, karena tidak semua keluarga Toraja tinggal di kampung halaman, sehingga perlu menunggu waktu tepat agar semua anggota keluarga dapat hadir bersama.

Tujuan ritual Ma’Nene, sekadar mengganti pakaian jenazah saja.

Tujuan utamanya adalah menghormati leluhur, menjaga hubungan spiritual antara yang hidup dengan yang sudah meninggal, serta memohon perlindungan dari roh nenek moyang.

Masyarakat Toraja percaya bahwa leluhur yang dihormati akan memberikan berkah, baik dalam bentuk hasil panen yang melimpah maupun perlindungan dari musibah.

Dengan demikian, Ma’Nene tidak hanya bernuansa spiritual, tetapi juga menjadi pengingat bahwa jasa leluhur selalu hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Di balik prosesi Ma'Nene' yang unik ini maknanya sangat dalam. Tradisi ini menegaskan bahwa, kematian bukanlah akhir, melainkan kelanjutan dari ikatan kekeluargaan.

Jenazah yang sudah puluhan tahun bahkan ratusan tahun masih awet dimakamkan tetap dianggap sebagai bagian dari keluarga yang harus dihormati.

Nah, dengan mengenakan pakaian baru, masyarakat Toraja menunjukkan kasih sayang, penghormatan, serta harapan bahwa arwah leluhur tetap menjaga mereka.

Setelah proses Ma'Nene' selesai dilaksanakan, masyarakat kemudian berkumpul di Tongkonan dan makan bersama-sama. Makanan yang disajikan saat itu adalah, hasil dari sumbangan setiap keluarga keturunan leluhur yang melaksanakan kegiatan tersebut.

Sekadar diketahui bahwa, jenasah kerabat, kelyarga yang telah meninggal diangkat kembali dari patani atau liang kuburnya untuk dibersihkan, diganti pakaiannya. Keluarga mempersembahkan kurban berupa kerbau dan babi beserta hal yang digemari almarhum kala itu, seperti makanan dan rokok atsu sirih.

Tradisi Ma'Nene' yakni, bagian penting dari budaya dan adat istiadat suku Toraja, memiliki makna mendalam menghormati leluhur mereka yang sudah meninggal.

Untuk diketahui Ma'Nene' dilaksanakan pertengahan Agustus dan ajang ini adalah pertemuan dan momen berkumpul bagi anggota keluarga besar, termasuk yang datang dari perantauan.

***Megasari/Yustus