SULSEL, cakrawalanews.net ][

Ancaman kekeringan akibat fenomena El Nino mulai menjadi perhatian serius di Kecamatan Sabbang Selatan, Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel). 

Kondisi tersebut dikhawatirkan semakin menekan para petani yang menggantungkan keberlangsungan lahan persawahan pada ketersediaan air.

Menanggapi kondisi itu, Ketua Kelompok Tani (Koptan) Tunas Muda di Pangalli, Desa Dandang, Kecamatan Sabbang Selatan Yustus Bunga, SP angkat suara dan meminta pemerintah tidak tinggal diam menghadapi ancaman kekeringan yang berpotensi mengganggu aktivitas serta hasil produksi pertanian masyarakat.

Yus panggilan akran Ketua Koptan Tunas Muda bersama jajaran pengurus Koptan Sumber Tani, Koptan Tunas Mase-Mase mendorong agar Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian segera turun langsung ke lapangan, duduk bersama para petani dan kelompok tani untuk memetakan persoalan serta menyusun langkah konkret menghadapi kondisi kekeringan.

“PPL jangan hanya menunggu laporan dari petani. Harus turun langsung melihat kondisi persawahan dan bersama-sama petani memikirkan langkah apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi kekeringan,” tegas Yustus.

Menurutnya, penanganan kekeringan tidak boleh dilakukan setelah lahan pertanian mengalami gagal panen. Pemerintah dan seluruh pihak terkait dinilai perlu bergerak lebih cepat dengan langkah antisipatif.

Salah satu langkah yang didorong Koptan Tunas Muda, Sumber Tani dan Tunas Mase-Mase adalah pengadaan bantuan sumur bor di sejumlah kawasan persawahan yang kekeringan/kekurangan air.

Yus menilai keberadaan sumur bor dapat menjadi salah satu solusi alternatif ketika pasokan air tadah hujan tidak mampu memenuhi kebutuhan lahan pertanian, khususnya di wilayah Dusun Pangalli yang paling terdampak kekeringan.

“Kami meminta pemerintah setempat mengupayakan bantuan sumur bor di beberapa area persawahan. Ini bukan sekadar persoalan hari ini, tetapi bagaimana pemerintah menyelamatkan lahan dan penghidupan para petani menghadapi ancaman kekeringan,” ujarnya, Jumat 14 Agustus 2026.

Kelompok Tani juga meminta pemerintah kecamatan, pemerintah desa, dinas terkait serta jajaran PPL Pertanian membangun koordinasi yang lebih kuat. Pendataan terhadap titik-titik persawahan yang mengalami kekeringan dinilai penting agar bantuan dapat diberikan secara tepat sasaran.

Yus menegaskan, petani tidak boleh dibiarkan berjuang sendiri menghadapi ancaman El Nino. Pemerintah harus hadir dengan solusi nyata, bukan sekadar imbauan.

Kelompok Tani di Desa Dandang terkhusus di Dusun Pangalli berharap, langkah cepat dapat segera dilakukan sebelum kekeringan semakin parah dan berdampak luas terhadap produktivitas pertanian masyarakat.

Kini yang ditunggu bukan lagi sekadar pernyataan, tetapi aksi nyata. Sebab bagi petani, keterlambatan penanganan hari ini bisa berarti ancaman gagal panen di kemudian hari.

***Megasari