Namun, di tengah perayaan kemerdekaan itu, kita dihadapkan pada sebuah ironi: seseorang yang hidup di negara merdeka, belum tentu hidup sebagai pribadi yang benar-benar merdeka.
Ia bebas bepergian, bebas memilih pekerjaan, bebas mengejar impian, tetapi tetap diperbudak oleh rasa takut, kecanduan, kepahitan, rasa bersalah, atau berbagai belenggu lain yang menguasai hatinya.
Di balik senyum, pencapaian, dan penampilan yang tampak baik-baik saja, tidak sedikit orang yang sesungguhnya masih hidup sebagai tawanan.
Perbudakan terbesar manusia bukanlah penjajahan politik, sosial, atau ekonomi, melainkan perbudakan dosa yang membawa kita kepada maut. Dosa bukan sekadar daftar kesalahan.
Dosa adalah kuasa yang memperbudak manusia, membutakan pikiran, memisahkan manusia dari Allah, dan membuatnya terus memberontak terhadap Allah. Karena itu manusia tidak sanggup membebaskan dirinya sendiri.
Membebaskan kita dari kuasa dosa, mengaruniakan hati yang baru, dan memampukan kita hidup dalam ketaatan melalui Kebebasan seperti ini tidak dapat diberikan oleh dunia dan tidak dapat dirampas oleh keadaan apa pun.
Memasuki bulan Agustus ini, kita tidak hanya mensyukuri kemerdekaan bangsa, tetapi juga merayakan kemerdekaan sejati yang telah Tuhan anugerahkan kepada setiap orang yang percaya kepada-Nya.
Jika hari ini masih ada dosa yang terus mengikat, kepahitan yang disembunyikan, rasa bersalah yang terus membebani, atau belenggu apa pun yang belum diserahkan kepada Tuhan, Hanya Dia yang sanggup melakukan apa yang tidak mungkin dilakukan oleh usaha manusia . Di dalam Dia, kita dibebaskan dari perbudakan dosa dan dimampukan hidup dalam ketaatan kepada Allah.
***

0 Komentar