SULSEL, Cakrawalanews.net - Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel), dipuncak perayaan Hari Kemerdekaan RI ke 81 pada 17 Agustus 2026. Usai upacara pengibaran bendera merah putih di Lapangan Taman Siswa (Tamsis), dilaksanakan parade atau defile dan atraksi pasukan pengamanan dari TNI dan Polri serta berbagai demonstrasi program pemerintah pusat.

Bupati Luwu Utara, Andi Abdullah Rahim melepasmpeserta defile secara resmi.

Parade ini melibatkan satuan pengamanan dari anggota Yonif TP 872/Anei Djemma. Parade juga menampilkan Batalyon D Pelopor Sat-Brimob Polda Sulsel dan parade program Asta Cita Presiden yang terealisasi dengan baik di Bumi La Maranginang julukan Luwu Utara.

Khusus program Asta Cita Presiden, panitia menampilkan parade Sekolah Rakyat, parade Koperasi Merah Putih dan parade bantuan Alsintan di Lutra.

"Ada yang spesial dari perayaam HUT Kemerdekaan kali ini di Bumi La Maranginang yakni, parade anggota 872 Batalyon Andi Djemma, paradenBatalyon D pelopor Sat-Brimob Polda Sulsel dan parade program Presiden yang sudah terlaksana di Lutra," sebut Andi Rahim.

Sekadar diketahui, Brimob memiliki sejarah panjang yang dimulai sejak zaman penjajahan Jepang. Namanya juga berganti-ganti, mulai dari Tokubetsu Kaisatsu Tai, Polisi Istimewa, Mobrig (Mobil Brigade), hingga Brimob.

Brimob terjadi sekitar 1943-1944 yakni, saat momen perang Asia Timur Raya. Jepang yang mengalami kekalahan dua kali berturut-turut kemudian mengubah strateginya, yaitu dengan menambah tenaga bantu militer.

Orang-orang Indonesia pun diubahnya menjadi tentara dalam organisasi-organisasi semimiliter dan militer. Ada Seinendan, Keibodan, Heiho, Pembela Tanah Air (Peta), dan terakhir Tokubetsu Keisatsu Tai yang merupakan cikal bakal Brimob.

Tokubetsu Keisatsu Tai lahir pada April 1944. Anggotanya adalah polisi muda dan pemuda polisi. Para calon anggotanya diasramakan dan dapat pendidikan serta latihan kemiliteran dari tentara.

Ketika Jepang menyerah pada sekutu dan Indonesia memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945, pada saat itu pula masa penggemblengan Tokubetsu Keisatsu Tai telah cukup.

Bersama-sama dengan rakyat dan berbagai kesatuan lainnya, anggota Tokubetsu Keisatsu Tai bahu-membahu dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Sejak Jepang menyerah kepada sekutu, maka seluruh satuan semimiliter dan militer di Indonesia dibubarkan. Satu-satunya kesatuan yang masih boleh memegang senjata adalah Tokubetsu Keisatsu Tai.

Keadaan inilah yang menempatkan anggota-anggota Tokubetsu Keisatsu Tai menjadi pioner dalam awal perebutan senjata untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Satuan ini juga yang melakukan pembukaan gudang-gudang senjata secara paksa. Pada kelanjutannya, senjata-senjata itu dibagi-bagikan kepada mantan anggota semimiliter dan militer, serta para pejuang lainnya.

Pada tanggal 21 Agustus 1945 di Markas Kesatuan Polisi Istimewa dibacakan teks Proklamasi oleh pasukan Polisi Istimewa.

Bunyinya: “Oentoek bersatoe dengan rakjat dalam perjoeangan mempertahankan Proklamasi 17 Agoestoes 1945, dengan ini menjatakan Poelisi sebagai Poelisi Repoeblik Indonesia“.

Polisi Istimewa adalah cikal bakal berdirinya Kepolisian Negara Republik Indonesia, yang pada saat pemerintahan Jepang di sebut dengan Tokubetsu Keisatsu Tai.

Setelah setahun lebih Polisi Istimewa berkiprah di garda depan dalam aneka perebutan fasilitas militer dan tempat-tempat strategis di pulau Jawa dan Sumatera, pada tanggal 14 November 1946 seluruh kesatuan Polisi Istimewa, Barisan Polisi Istimewa, dan Pasukan Polisi Istimewa dilebur menjadi Mobile Brigade (Mobrig) atau sekarang terkenal Brimob.

Dalam menghadapi tantangan, terutama karena banyaknya pemberontakan dan separatisme, pimpinan Mobrig memandang perlu pembentukan pasukan khusus yang mempunyai kemampuan khusus. Maka, sekitar tahun 1954-1959 mulai dirintis pembentukan pasukan Ranger (Pelopor).

***Megasari/Yustus