Oleh : Iwan S.
Wartawan cakrawalanews.net
Biro Sukabumi

Puluhan Hari saya menjadi wartawan. Menulis dari pinggiran tambang sampai beranda istana. Mengamati bagaimana tanah ini, negeri ini, berkali-kali mengulang nasib sebagai bangsa pengupas kulit: menggali, menambang, mengangkut, mengekspor, tapi tak pernah benar-benar menikmati buahnya sendiri.

Timah, nikel, bauksit, tembaga, batu bara kekayaan yang oleh Tuhan disimpan dalam perut bumi kita. Tapi kita, entah karena malas berpikir panjang atau terlalu tunduk pada godaan jangka pendek, memilih menjualnya dalam bentuk mentah. Dikirim ke luar negeri dengan harga murah, lalu kembali ke negeri ini dalam rupa barang jadi yang lebih mahal. Seperti orang yang memerah susu sendiri, tapi minum susunya dari gelas tetangga.

Kini, ketika ada upaya untuk memutus lingkaran setan itu, melalui hilirisasi, narasi tandingan bermunculan. Bukan dari dalam negeri, tetapi dari luar. Dari lembaga-lembaga asing yang membawa bendera lingkungan, keberlanjutan, dan hak asasi. Mereka berbicara lantang di forum dunia. Mereka tampil elegan dalam tayangan dokumenter yang menyayat hati. Saya, yang pernah ngobrol dari hati ke hati dengan buruh tambang dan sopir truk di Kalimantan, justru mencium aroma kepentingan lain dari balik retorika mereka.

Saya tidak menafikan pentingnya menjaga lingkungan. Tapi saya juga tidak buta terhadap ironi: mengapa ketika kita mulai ingin mengolah sendiri sumber daya kita, ketika kita ingin naik kelas dari sekadar tukang gali jadi pemilik pabrik, justru saat itu pula muncul penolakan yang massif, dan nyaris bersamaan, dari berbagai penjuru dunia, seperti paduan suara yang sudah disetel nadanya? 

Apakah benar semua demi bumi. Atau karena mereka tak ingin Indonesia mengganggu peta perdagangan global yang selama ini sudah nyaman? Peta yang membuat kita terus menerus berada di posisi bawah, sekadar penyedia bahan baku murah?

Saya jadi ingat satu kalimat dari seorang penambang timah tradisional di Belitung. Katanya, “Pak, selama ini kami hanya nonton kekayaan kami dibawa pergi. Kami bahkan enggak tahu rasanya kaleng minuman yang dibuat dari timah di tanah kami.” 

Kalimat itu menampar saya. Karena ia bukan hanya soal ekonomi, tapi soal martabat.

Dan kini, saat negeri ini ingin bangkit lewat hilirisasi, kita justru diserbu narasi yang sinis, provokatif, bahkan manipulatif. Dibalut berita dan studi yang tampak ilmiah, tapi isinya menyudutkan. Ada upaya untuk menciptakan kesan bahwa hilirisasi adalah jalan menuju kehancuran lingkungan, bahwa Indonesia sedang bermain api.

Saya tidak menutup mata terhadap potensi kerusakan. Tapi mari kita lihat secara adil: apakah lebih baik terus menjual mentah dan membiarkan negara lain yang mengolah, menguasai teknologi, lalu menjualnya kembali ke kita dengan harga berlipat?

Rakyat harus jeli. Jangan buru-buru percaya pada narasi dari luar. Kadang yang dibungkus rapi dengan jargon “keprihatinan lingkungan” adalah rasa takut mereka takut kehilangan dominasi, takut melihat bangsa kita belajar berdiri sendiri.

Sebagai jurnalis saya tidak sedang membela pemerintah. Saya sedang membela akal sehat bangsa. Karena hilirisasi bukan hanya strategi ekonomi. Ia adalah bagian dari perjuangan menjadi bangsa yang bermartabat. Yang tidak selamanya menjual tanahnya lalu membeli kembali hasilnya.

Saya hanya ingin bilang, jangan sampai kita terus menjadi bangsa yang menggali emas, tapi tetap hidup seperti pengemis. Jangan sampai narasi dari luar lebih dipercaya ketimbang suara nurani dari dalam.

Mari buka mata, dan berpikir jernih. Karena kadang, yang tampak seperti nasihat, sebenarnya adalah peringatan agar kita tidak maju terlalu cepat.

***