KARAWANG | Cakrawalanews.net – Tradisi Hajat Bumi di Desa Jayamukti, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, kembali digelar meriah, Kamis (6/8/2026). Namun, di balik kemeriahan pesta rakyat tersebut, tersimpan pesan kuat tentang pentingnya menjaga budaya lokal sekaligus menjadikan tradisi sebagai penggerak ekonomi masyarakat.Kegiatan yang digelar Pemerintah Desa Jayamukti bersama masyarakat itu menjadi momentum tasyakur atas hasil bumi sekaligus ruang untuk mempererat silaturahmi, menjaga budaya leluhur, dan membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Anggota DPRD Kabupaten Karawang Komisi III , H. Erick Heryawan Kusumah, S.E., turut hadir menyaksikan rangkaian kegiatan bersama masyarakat.
Erick menilai Hajat Bumi tidak boleh berhenti sebagai agenda tahunan yang sekadar menghadirkan kemeriahan. Menurutnya, tradisi tersebut memiliki nilai pendidikan, sosial, budaya, dan ekonomi yang jauh lebih besar.
“Alhamdulillah, Hajat Bumi dalam rangka tasyakur ini diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Jayamukti bersama masyarakat. Intinya kita bersyukur atas limpahan rahmat dan karunia Allah SWT. Mudah-mudahan tradisi yang baik ini dapat terus berlangsung setiap tahun karena memberikan banyak pelajaran positif,” ujar Erick.
Ia menegaskan, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat. Sebab, sebuah tradisi akan memiliki nilai lebih ketika mampu memberikan manfaat nyata bagi warga.
Menurutnya, Hajat Bumi menjadi ruang edukasi bagi generasi muda agar tidak kehilangan akar budaya di tengah derasnya perubahan zaman. Tradisi tersebut juga menjadi salah satu cara mengenalkan kembali nilai gotong royong, rasa syukur, dan kebersamaan.
“Jangan sampai generasi muda hanya mengenal budaya dari cerita. Mereka harus melihat, ikut terlibat dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya,” tegasnya.
Tak hanya persoalan budaya, Erick melihat Hajat Bumi juga memiliki efek ekonomi yang cukup signifikan. Kehadiran UMKM, pedagang kaki lima, pelaku seni, kelompok musik tradisional hingga grup sandiwara membuat perputaran ekonomi terjadi selama kegiatan berlangsung.
“Kita melihat banyak pelaku kesenian, musik, sandiwara, hingga arak-arakan karnaval. Ini menjadi pesta rakyat yang bukan hanya menghibur masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi desa dan memberi ruang bagi para pelaku budaya untuk terus berkarya,” katanya.
Bagi Erick, kondisi tersebut menunjukkan bahwa kegiatan budaya di tingkat desa sebenarnya dapat menjadi bagian dari strategi penguatan ekonomi kerakyatan.
Pemerintah desa, menurutnya, perlu melihat potensi tersebut secara lebih serius dan tidak sekadar menjadikan Hajat Bumi sebagai kegiatan seremonial.
Ia juga menyoroti pentingnya menjaga kebersamaan masyarakat. Hajat Bumi menjadi salah satu momentum ketika warga dari berbagai latar belakang dapat berkumpul dalam suasana kebersamaan tanpa sekat.
“Semoga kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sehingga rasa persatuan dan kesatuan masyarakat terus terpupuk. Modal utama kita adalah persatuan,” tambahnya.
Tradisi Hajat Bumi sendiri merupakan bagian dari kearifan lokal masyarakat agraris di sejumlah wilayah Karawang. Di dalamnya terdapat perpaduan nilai budaya, religi, sosial, dan penghormatan terhadap kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada hasil bumi.
Karena itu, keberadaan Hajat Bumi dinilai tidak cukup hanya dipertahankan sebagai warisan masa lalu. Tradisi tersebut perlu dikembangkan agar mampu menjadi sarana edukasi budaya, ruang ekspresi seni, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat desa.
Pesan yang mengemuka dari Hajat Bumi Jayamukti pun jelas: budaya jangan hanya dirayakan, tetapi harus diwariskan, diberdayakan, dan memberi manfaat bagi masyarakat.
@Red


0 Komentar