Oleh : Iwan S.
Wartawan cakrawalanews.net
Biro Sukabumi

Ada saatnya engkau tidak membutuhkan lebih banyak kata, tidak membutuhkan penjelasan dari siapapun, tidak membutuhkan keramaian untuk membuatmu merasa berarti. Engkau hanya perlu diam. Bukan diam karena menyerah, bukan diam karena tidak peduli. Tetapi diam untuk memberi kesempatan kepada hati berbicara.

Sebab selama ini mungkin terlalu banyak suara di sekelilingmu. Suara manusia, suara dunia, suara keinginan, suara ketakutan, dan juga suara ego.

Semuanya bercampur hingga engkau sulit mendengar apa yang sebenarnya terjadi didalam hatimu, maka sesekali menjauhlah dari keramaian.

Duduklah sendirian, tidak perlu melakukan apa-apa. Hanya diam dan perhatikan dirimu.

Apa yang sebenarnya sedang engkau cari?

Mengapa engkau begitu takut kehilangan?

Mengapa engkau begitu ingin dipuji?

Mengapa engkau sulit menerima keadaan?

Mengapa hatimu masih menyimpan sesuatu yang seharusnya sudah engkau lepaskan?

Dalam diam pertanyaan-pertanyaan itu mulai muncul dan mungkin selama ini bukan karena jawabannya tidak ada, tetapi karena engkau terlalu berisik untuk mendengarnya.

Diam juga mengajarkanmu bahwa tidak semua hal harus dijawab. Tidak semua perkataan harus dibalas, tidak semua tuduhan harus dijelaskan, tidak semua orang harus memahami dirimu.

Ada kalanya engkau memilih diam bukan karena engkau kalah, tetapi karena engkau tidak ingin egomu mengendalikan lidahmu.

Sebab semakin dewasa hati, semakin ia memahami bahwa memenangkan perdebatan belum tentu berarti memenangkan ketenangan.

Kadang engkau menang dalam percakapan, tetapi kalah dalam ketenangan hati.

Engkau berhasil membuktikan bahwa dirimu benar, tetapi hatimu menjadi penuh amarah.

Maka belajarlah diam ketika kata-kata hanya akan memperbesar luka.

Diam bukan berarti tidak memiliki suara.

Diam adalah ketika engkau memiliki banyak hal untuk dikatakan tetapi memilih sesuatu yang lebih baik daripada sekadar melampiaskan perasaan.

Dan ada diam yang lebih dalam lagi ketika engkau duduk sendirian bersamaNya.

Tidak banyak meminta, tidak banyak mengatur, tidak sibuk mencari jawaban atas semua hal. Hanya hadir dan menyadari bahwa engkau sedang berada di hadapan-Nya.

Disana hati yang selama ini gelisah perlahan menjadi tenang. Bukan karena semua masalah sudah selesai, tetapi karena untuk sesaat engkau berhenti melawan kehidupan. Engkau berhenti menggenggam semuanya, engkau hanya diam dan membiarkan hatimu merasakan bahwa Tuhan tetap ada. Mungkin ada luka yang tidak perlu engkau ceritakan kepada seluruh dunia, cukup Tuhan yang tahu.

Ada air mata yang tidak perlu dilihat manusia, cukup Tuhan yang tahu. Ada perjuangan yang tidak perlu mendapatkan pengakuan, cukup Tuhan yang tahu, dan ketika engkau mulai nyaman dengan diam yang seperti ini engkau akan menyadari: kesendirian tidak selalu berarti kesepian, kadang kesendirian adalah tempat dimana hati yang lelah akhirnya bisa bernafas.

Maka jangan selalu takut pada kesunyian. Bisa jadi didalamnya ada sesuatu yang selama ini engkau cari. Kesadaran, ketenangan, dan kesempatan untuk kembali melihat dirimu sendiri, karena ada diam yang membuat manusia semakin jauh dari kehidupan, tetapi ada pula diam yang justru menghidupkan hati.

***