Sukabumi, cakrawalanews.net ][

Di tengah kabar bahwa layanan streaming akhirnya secara resmi menyalip gabungan televisi konvensional dan TV kabel sebagai medium tontonan utama, ada rasa duka yang tenang bagi mereka yang pernah tumbuh bersama siaran televisi konvensional.

Bagi para wartawan penyiaran, para kamerawan tua yang dulu bangga mengenakan rompi seragam stasiun televisi di lapangan, berita ini bukan sekadar statistik melainkan bel berbunyi lembut yang menandai senjakala sebuah era.

Menurut Nielsen, pada bulan Mei, layanan streaming menyumbang 44,8% dari total penayangan TV, mengungguli gabungan TV kabel dan TV konvensional yang berada di 44,2%.

Keunggulan ini bukan hanya tentang angka, tapi perubahan arsitektur budaya kita perihal bagaimana manusia kini lebih memilih mengatur sendiri jadwal tontonan mereka, tanpa menunggu jam tayang tetap atau jeda iklan sabun cuci.

Seperti kata Prof. Robert McChesney dalam bukunya "The Problem of the Media" (2004), “Teknologi hanya menyediakan kerangka. Pilihan yang menentukan isi dan dampaknya selalu bersifat politis dan ekonomi.”

Perubahan dari TV konvensional ke streaming bukan hanya masalah teknis, tapi juga soal kekuasaan distribusi dan kendali atas perhatian publik.

Dulu TV konvensional lahir dalam semangat kolektif. Penonton duduk bersama keluarga untuk menyaksikan "Dunia Dalam Berita" atau "Si Doel Anak Sekolahan."

Ada ruang komunal yang terbentuk karena waktu dan saluran terbatas. Hari ini, ruang itu telah berubah menjadi sel pribadi dalam algoritma yang tahu jam tidur kita, jenis kelamin, dan kecenderungan menonton ulang dokumenter kriminal.

Siaran televisi kini seperti panggung teater yang masih mengharapkan penonton datang ke gedungnya di tengah kota, sementara penonton sudah terbiasa menonton pertunjukan yang sama, atau bahkan lebih imersif, dari layar ponsel sambil rebahan.

Seorang wartawan senior pernah menyindir dengan pahit, "Di ruang redaksi TV, kita sibuk memikirkan segmen untuk jam prime time, sementara anak-anak muda justru membagikan potongan video tanpa suara di Instagram."

Lalu, apakah ini berarti akhir dari TV konvensional?

Tidak secepat itu. Televisi masih memiliki keunggulan dalam hal liputan langsung dan jangkauan luas, terutama di negara-negara berkembang atau wilayah-wilayah tanpa infrastruktur digital memadai.

Namun, keunggulan itu makin sempit dan tak cukup lagi untuk menarik perhatian pengiklan, terutama yang kini berpindah ke model berbayar berbasis langganan atau programmatic advertising berbasis perilaku.

Dr. Amanda Lotz dalam buku "The Television Will Be Revolutionized" (2014) menjelaskan bahwa kita sebenarnya sedang menyaksikan reinkarnasi televisi, bukan kematiannya.

“Televisi bukanlah sebuah teknologi, tapi sebuah institusi sosial. Ia akan terus berubah mengikuti struktur ekonomi dan budaya.”

Dan benar saja, banyak stasiun TV kini membuka kanal YouTube, merilis aplikasi on-demand, bahkan memotong siarannya ke dalam reels dan TikTok.

Namun pertanyaannya: Apakah jurnalisme televisi akan tetap bernyawa di dunia streaming? Ataukah justru larut dalam hiburan dan clickbait yang lebih cocok untuk menggaet viewer retention?

Streaming menjanjikan kebebasan, fleksibilitas, dan personalisasi. Tapi ia juga membawa risiko: algoritma yang mementingkan retensi waktu tonton ketimbang kualitas isi, bubble informasi, dan ledakan konten yang justru membanjiri pengguna.

Dalam konteks ini, stasiun TV konvensional betapapun lamban dan birokratis kadang masih memiliki standar redaksi, kontrol kualitas, dan tanggung jawab penyiaran yang lebih kuat daripada platform konten terbuka.

Menurut Jaron Lanier, pakar teknologi dan penulis "Ten Arguments for Deleting Your Social Media Accounts Right Now", krisis kepercayaan pada media tidak lahir dari jurnalis, melainkan dari sistem digital yang memberi insentif pada konten yang paling ekstrem, membingungkan, dan provokatif.

Di dunia streaming, berita dan hiburan tak lagi dibedakan secara jelas. Konten dipersonalisasi, tapi sekaligus kehilangan konteks sosialnya.

Sebagai pensiunan yang pernah menyaksikan langsung bagaimana liputan banjir dipersiapkan dari subuh, bagaimana berita malam disusun dengan naskah manual dan kaset Betacam, kabar ini seperti menyaksikan sahabat lama perlahan menjadi relik. Bukan karena ia tak mampu beradaptasi, tapi karena ia ditinggalkan oleh sistem yang berubah terlalu cepat.

Lembaga-lembaga penyiaran perlu merenung kembali: apakah misi mereka adalah bertahan hidup di medan kompetitif algoritma, atau tetap menjalankan fungsi edukatif dan informatif meskipun audiensnya menyusut? Karena pada akhirnya, nilai dari sebuah siaran bukan hanya ditentukan oleh jumlah klik, tapi oleh kemampuan menyuarakan yang tak terdengar.

Seperti kata Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam buku klasik "The Elements of Journalism", tugas jurnalis adalah “to provide people with the information they need to be free and self-governing.”

Jika streaming menjadi dominan, maka prinsip ini harus menjadi cahaya penerang, bukan sekadar lampu studio yang perlahan dipadamkan.

TV konvensional mungkin telah tersalip dalam statistik. Tapi bukan berarti ia harus menyerah dalam nilai. Di tengah kegaduhan algoritma dan ledakan konten instan, justru perlu ada ruang yang menjaga integritas narasi, kedalaman informasi, dan suara warga yang tak viral.

Siapa tahu, mungkin dari reruntuhan lembaga penyiaran, akan lahir bentuk baru dari penyiaran publik yang lebih adaptif, namun tetap bermartabat.

(Iwan. S)