Tanggamus, cakrawalanews.net –

Di tengah masifnya slogan “Sehatkan yang Sakit”, kenyataan berbeda dialami Hamidah, 64, warga Kelurahan Baros, Kecamatan Kota Agung, Kabupaten Tanggamus. Selama hampir tiga tahun menderita stroke dan lumpuh, ia mengaku belum pernah menerima kunjungan rumah, pemeriksaan rutin, maupun pendampingan dari Puskesmas Kota Agung.

Saat ini Hamidah hanya terbaring di kasur sederhana di rumah Jalan Srikandi RT 06 RW 02. Keterbatasan ekonomi membuat pengobatan putus. Obat-obatan pun tidak lagi terjangkau.

Suaminya, Baihaki, 73, buruh harian lepas dengan penghasilan tidak menentu, mengaku tidak mampu membawa istrinya ke rumah sakit.  

“Tidak ada biaya. Selama hampir tiga tahun istri saya sakit, belum pernah ada petugas Puskesmas Kota Agung datang ke rumah, apalagi periksa atau beri obat,” ujarnya, Jumat, 27/6/2026.

Baihaki mengaku keluarga juga tidak pernah menerima Program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) atau bantuan sosial lain, padahal kondisi mereka sangat memprihatinkan.  

“Kami hanya bisa pasrah. Semoga Allah memberi mukjizat agar istri saya sembuh, meski tanpa obat,” katanya.

Balita Sakit Kronis Juga Tidak Terlayani

Di lokasi yang sama, tim menemukan balita 9 bulan yang sejak lahir menderita bronkitis dengan kelainan paru-paru dan jantung. Orang tua balita mengaku belum pernah menerima kunjungan konseling, pemeriksaan rutin, maupun PMT dari Puskesmas Kota Agung.

Lansia stroke dan balita sakit kronis seharusnya menjadi sasaran prioritas layanan aktif atau “jemput bola”, bukan menunggu datang ke faskes.

Konfirmasi ke Puskesmas

Awak media mendatangi Puskesmas Kota Agung untuk konfirmasi. Kepala UPT Puskesmas tidak berada di tempat. Keterangan diminta kepada bidan desa wilayah Kelurahan Baros.

Bidan tersebut menyebut jumlah lansia di Baros banyak dan meminta agar tidak mencari-cari kesalahan. Ia juga menyatakan pemeriksaan pernah dilakukan. 

Pernyataan itu berbeda dengan pengakuan keluarga yang menegaskan tidak pernah menerima kunjungan maupun pemeriksaan selama Hamidah lumpuh. Perbedaan data ini perlu diverifikasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tanggamus agar fakta jelas.

Sikap bidan yang defensif saat dikonfirmasi juga disorot. Sikap itu dinilai tidak sejalan dengan prinsip pelayanan publik yang terbuka terhadap kritik dan kontrol sosial pers, sebagaimana diatur dalam regulasi.

Harapan Keluarga

Temuan ini menjadi ujian komitmen Pemkab Tanggamus menjadikan kesehatan sebagai program prioritas melalui visi “Sehatkan yang Sakit”. Warga berharap program benar-benar sampai ke rumah warga miskin, bukan hanya slogan.

“Saya berharap penyakit istri saya cepat membaik, dan dinas terkait segera melakukan penanganan serius,” pungkas Baihaki.

(Arsal)