SULSEL|Cakrawalanews.net 

Vox Point Indonesia (Vox Populi Institute Indonesia), sebuah organisasi yang bergerak di bidang pendidikan dan kebudayaan, kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan literasi anak-anak Indonesia dan mengambil langkah berani dengan mengubah cara anak muda mengonsumsi konten edukasi.

Melalui perayaan hari ulang tahunnya yang ke-10, yang digelar di Auditorium Penunjang Siaran Luar Negeri, Gedung Radio Republik Indonesia (RRI), Jumat (5/6/2026) lalu. 

Ormas Katolik ini meluncurkan gebrakan nyata di Auditorium RRI Jakarta. Ada eua senjata utama yang mereka twyangkan ke ruang digital yakni, program digital storytelling yang bertujuan menghidupkan kembali cerita rakyat dan kisah-kisah orang Kudus (dalam Katolik). 

Inisiatif ini merupakan bagian dari gerakan Vox Point Indonesia Hidupkan Cerita Rakyat untuk Tingkatkan Literasi Anak LPP RRI, yang diharapkan dapat menjadi solusi atas rendahnya minat baca dan literasi di kalangan generasi muda.

Wakil Ketua Umum Vox Point Indonesia, Indra Charismiadji, yang juga dikenal sebagai praktisi pendidikan pada media ini, Minggu 7 Maret 2026 menjelaskan bahwa, program ini lahir dari keprihatinan terhadap minimnya peran keluarga dalam pendidikan anak. 

" Banyak orang tua cenderung menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah dan guru. Padahal, keluarga seharusnya menjadi pusat pendidikan pertama dan utama bagi anak. 

Kita melakukan aksi nyata, membantu pemerintah dengan memberikan sebuah sumbangan yakni, karya untuk meningkatkan kemampuan literasi anak-anak kita. Caranya dengan menghidupkan kembali cerita-cerita rakyat, cerita-cerita orang kudus dan itu untuk men-trigger kemampuan berpikiran anak-anak kita,” sebut Indra panggilan akrab Wakil Ketua Vox Point Indonesia.

Program digital storytelling yang diluncurkan terdiri dari dua kanal utama yakni, Kisah Santo bersama Ki Petrus dan Cerita Rakyat Nyi Dayat. Kisah Santo bersama Ki Petrus menyajikan kisah-kisah Santo, Santa, dan orang kudus dalam tradisi Gereja Katolik, dikemas dalam format cerita yang sederhana, menarik, dan mudah dipahami oleh anak-anak maupun keluarga. 

Sementara itu, Cerita Rakyat Nyi Dayat mengangkat berbagai kisah rakyat dari seluruh pelosok Indonesia, sebagai upaya merawat kekayaan budaya, kearifan lokal, nilai moral, dan identitas kebangsaan. 

Kedua kanal ini diharapkan dapat menjadi media edukatif yang memperkuat literasi, karakter, iman, budaya, dan imajinasi anak Indonesia.

Indra Charismiadji menegaskan bahwa, Vox Point Indonesia Hidupkan Cerita Rakyat untuk Tingkatkan Literasi Anak LPP RRI bukan sekadar program seremonial, melainkan sebuah ikhtiar konkret untuk menghadirkan konten pendidikan yang relevan dengan dunia anak saat ini.

Menurut Indra, petuah tersebut justru makin valid di era gempuran AI dan Algoritma media sosial.

Ia mengutip ungkapan yang sering dikaitkan dengan Albert Einstein: “Jika Anda ingin anak-anak Anda cerdas, bacakan mereka dongeng. Jika Anda ingin mereka lebih cerdas, bacakan mereka lebih banyak dongeng.” Pernyataan ini menjadi fondasi filosofis di balik program digital storytelling yang digagasnya.

Albert Einstein mengingatkan bahwa, dongeng bukan sekedar hiburan. Dongeng adalah pintu masuk bagi imajinasi, rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, daya nalar, dan pembentukan karakter anak.

Pertanyaannya, bagaimana pesannitu kita terjemahkan di era digital? Anak-anak saat ini hidup diruang digital. Karena itu kita perlu menghadirkan dongeng, kidah keteladanan, dan ceritera rakyat ke dalam format yang dekat dengan kehidupan mereka.

Lebih lanjut, Indra berencana untuk berkeliling Indonesia guna mendorong agar cerita rakyat kembali masuk ke dalam keluarga Indonesia. 

Ia ingin mengedukasi orang tua tentang pentingnya peran keluarga dalam membentuk kebiasaan membaca dan bercerita. 

Dengan demikian," Vox Point Indonesia Hidupkan Cerita Rakyat untuk Tingkatkan Literasi Anak LPP RRI diharapkan dapat menjadi gerakan nasional yang melibatkan banyak pihak, mulai dari orang tua, guru, hingga komunitas," terangnya.

Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan literasi anak Indonesia yang masih tergolong rendah. Berdasarkan data UNESCO, minat baca masyarakat Indonesia berada di peringkat bawah dibandingkan negara-negara lain.

" Menurut Indra, ceritera memiliki peran penting bagi kecerdasan anak. Karena itu, konten pendidikan harus hadir melalui platform digital memperluas akses ceritera bermutu. Jangkauannya lebih cepat, luas dan terjangkau bagi keluarga," jelas Indra yang juga pemerhati pendidikan nasional.

Indra juga menyoroti bahaya " buta aksara fungsional" kondisi dimana anak seolah-olah bisa mengeja tulisan, tapi blank soal maknanya.

Buta aksara fungsional ini sangat berbahaya karena sering tidak terlihat. Anak tampak bisa membaca, tetapi sesungguhnya tidak memahami. Atau ia bisa melafalkan kata, tetapi gagal menangkap maknanya," urainya.

Padahal, sebut Indra, masa depan bangsa membutuhkan generasi yang bukan hanya bisa membaca teks, tetapi mampu memahami dan menafsirkannya.


***Megasari/Yustus